
Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang ditandai oleh munculnya halusinasi, delusi, pola pikir yang kacau, serta perubahan perilaku. Pada umumnya, penyandang kondisi ini memperlihatkan gejala psikosis, yaitu ketidakmampuan membedakan antara realitas dengan pikiran yang berasal dari dirinya sendiri.
Karena hal tersebut, banyak orang mengira skizofrenia sama dengan psikosis, padahal keduanya berbeda. Psikosis hanyalah salah satu gejala yang bisa muncul pada berbagai gangguan mental, termasuk skizofrenia. Mengutip dari HaloDoc, berikut 5 penyebab Skizofrenia
Penyebab Skizofrenia
1. Faktor Genetik
Risiko seseorang mengalami skizofrenia meningkat sekitar 10% jika memiliki keluarga dengan kondisi serupa.
Kemungkinan tersebut dapat naik menjadi 40% bila kedua orang tua mengidap gangguan ini.
Pada anak kembar, jika salah satunya mengidap skizofrenia, maka pasangannya memiliki risiko hingga 50% untuk mengalami hal yang sama.
2. Komplikasi Kehamilan dan Persalinan
Beberapa kondisi selama kehamilan dapat memicu munculnya skizofrenia pada anak di kemudian hari.
Faktor tersebut meliputi paparan racun atau virus saat hamil, ibu dengan diabetes gestasional, perdarahan selama kehamilan, serta kekurangan nutrisi.
Masalah yang terjadi saat proses melahirkan juga dapat berkontribusi, seperti bayi lahir dengan berat rendah, prematur, atau mengalami kekurangan oksigen (asfiksia).
3. Ketidakseimbangan Kimia Otak
Gangguan pada kadar neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin dapat meningkatkan risiko skizofrenia.
Pengidap skizofrenia juga cenderung memiliki perbedaan struktur dan fungsi otak dibanding orang tanpa gangguan mental.
Perbedaan tersebut mencakup:
• Ukuran ventrikel otak yang lebih besar.
• Lobus temporalis yang lebih kecil.
• Koneksi antarsel otak yang lebih sedikit.
4. Penyalahgunaan Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan psikoaktif dapat memicu atau memperburuk gejala skizofrenia, terutama pada individu yang sudah rentan secara genetik.
Zat seperti kanabis, amfetamin, dan LSD dikaitkan dengan meningkatnya risiko munculnya gejala psikotik, khususnya bila digunakan secara intens dan jangka panjang.
Kanabis dianggap dapat memicu episode skizofrenia, terutama jika digunakan sejak remaja saat otak masih berkembang.
Mekanismenya masih diteliti, namun diduga zat tersebut mengacaukan keseimbangan kimia otak dan memperparah gangguan neurotransmiter.
Jenis-Jenis Skizofrenia
Terdapat beberapa tipe skizofrenia dengan ciri dan gejala yang berbeda-beda:
• Paranoid: Ditandai oleh halusinasi dan delusi yang dominan. Penderitanya sering tampak curiga, waspada, atau bersikap defensif.
• Disorganisasi: Memperlihatkan perilaku dan cara bicara yang sangat tidak teratur, serta kesulitan merawat diri sendiri. Emosi dapat tampak datar atau tidak sesuai.
• Katatonik: Mengalami gangguan motorik seperti diam dalam satu posisi lama, aktivitas motorik berlebihan, atau gerakan yang tidak bertujuan.
• Residual: Cenderung menunjukkan gejala negatif seperti emosi tumpul, minim inisiatif, menarik diri dari sosial, dan kesulitan berkomunikasi.
• Undifferentiated: Gejalanya merupakan gabungan dari delusi, halusinasi, pikiran yang kacau, serta perilaku tidak teratur.
• Simpleks: Ditandai dengan penurunan fungsi sosial, kurang motivasi, serta emosi yang datar.
Gejala Umum
1. Delusi
Kepercayaan yang salah dan tidak sesuai kenyataan, misalnya merasa diikuti atau dicurigai oleh orang lain.
2. Halusinasi
Mengalami sensasi palsu seperti mendengar suara yang tidak berasal dari lingkungan.
3. Ucapan Tidak Teratur
Berbicara secara lompat-lompat, terputus di tengah kalimat, atau menggunakan kata-kata yang tidak jelas maknanya.
4. Perilaku Tidak Teratur
Melakukan aktivitas yang aneh atau berulang, menunjukkan postur tubuh yang tidak biasa, atau kesulitan menyelesaikan tugas harian.
5. Gejala Negatif
Penurunan respons emosional, rasa senang berkurang, menarik diri dari lingkungan sosial, atau kurangnya motivasi.
Itulah penyebab, jenis-jenis, dan gejala terkait skizofrenia, dalam hal ini perlunya kewaspadaan terhadap penyakit tersebut. Pencegahan lebih baik daripada mengobati, jika ada gejala atau lainnya, bisa hubungi dokter untuk lebih detailnya.