Kebiasaan membaca orang-orang saat ini sudah mulai berubah karena adanya transformasi digital. Dari yang dulu nenteng buku kemana-mana, sekarang beralih ke layar HP atau tablet. Terutama Gen Z yang lebih memilih e-book karen apraktis, gampang diakses, dan biasanya lebih murah. Sayangnya, transformasi digital ini bikin banyak toko buku fisik legendaris harus menutup gerai karena penjualannya terus turun.
Tapi di tengah gelombang digital yang bikin banyak toko buku tumbang, Gramedia justru beda cerita. Sejak berdiri tahun 1970 sebagai bagian dari Kompas Gramedia, mereka bukan cuma bertahan, tapi bahkan tumbuh dan berekspansi. Artikel ini bakal ngebahas gimana Gramedia bisa “naik level” lewat transformasi digital, saat banyak toko buku lain justru gulung tikar.
Transformasi Kebiasaan Membaca di Era Digital
Kita hidup di zaman serba cepat. Cara kita mengonsumsi informasi berubah total: semuanya harus digital, mobile-first, dan aksesnya instan. Anak muda sekarang lebih sering baca berita lewat internet ketimbang koran atau majalah. Pandemi juga bikin semuanya makin digital karena orang makin bergantung pada perangkat online.
Perubahan ini ngaruh banget ke minat baca buku fisik. Banyak yang pindah ke bacaan digital karena lebih simpel, tinggal buka HP, selesai. Platform seperti Gramedia Digital atau Storial juga memudahkan pembaca mengakses ribuan buku lewat sistem langganan. Tapi meski tren e-book naik, tantangan lain muncul: minat baca masyarakat secara umum sebenarnya masih rendah. Konten pendek seperti video, meme, atau berita cepat jauh lebih populer dibanding membaca buku yang butuh waktu dan fokus.
Efek dari perubahan ini keras banget buat toko buku fisik. Gunung Agung, yang sudah ada sejak 1953, tutup seluruh gerainya akhir 2023. Books & Beyond juga menutup gerai offline sejak 2023. Bahkan Togamas dan Kinokuniya ikut merampingkan gerai. Industri perbukuan benar-benar terpukul dan nggak punya banyak waktu buat adaptasi.
Yang menarik, di balik kabar gulung tikar itu, pasar buku Indonesia justru diprediksi tumbuh sampai US$72,14 juta pada 2026. Banyak orang, terutama di daerah, sebenarnya tetap antusias baca buku fisik asal aksesnya mudah.
Buat nambah insight, kamu bisa tonton video “Minat Baca Menurun, Kenapa?” dari Mutia Indah NS (Suara Positif Ep. 5) di YouTube, karena di sana dijelasin banget soal tantangan literasi zaman sekarang.
Bagaimana Gramedia Bisa Tetap Kokoh di Era Transformasi Digital?
Jawaban singkatnya, gramedia cepat beradaptasi. Mereka nggak ngotot mempertahankan cara lama, tapi justru menyambut perubahan digital dengan serius. Bahkan unit media cetak mereka, Gramedia Majalah, berubah total jadi Grid Network.
Berikut strategi yang bikin Gramedia tetap relevan:
1. Transformasi Digital Lewat Aplikasi Gramedia Digital
Gramedia Digital bukan cuma toko buku online, tapi ekosistem e-book terbesar di Indonesia. Mereka memproduksi e-book berkualitas tinggi dan menyediakan ribuan judul yang bisa diakses kapan saja.
Kenapa cocok buat anak muda?
Karena semuanya bisa dibaca lewat satu perangkat. Nggak perlu bawa-bawa buku berat. Praktis.
Dampaknya ke bisnis:
Gramedia nggak cuma jadi pengecer buku fisik, tapi juga pemain besar di pasar konten digital. Akses mereka jadi lebih luas, bahkan ke daerah yang nggak punya toko fisik.
Contoh nyata:
Ada berbagai buku interaktif dengan multimedia yang bikin pengalaman baca lebih hidup.

2. Inovasi Produk: Langganan & Konten Interaktif
Nggak cuma jual e-book satuan, Gramedia juga sudah masuk ke model berlangganan yang makin populer di Indonesia.
Kenapa cocok buat anak muda?
Karena lebih ekonomis. Bayar satu kali, dapat ribuan buku.
Dampak ke bisnis:
Gramedia mendapatkan pendapatan berulang yang stabil. Teknologi seperti AI, AR, atau VR juga dipakai untuk memperkaya konten.
Contohnya:
Unit seperti Skystar Ventures dan Skystar Capital mendukung perkembangan startup teknologi yang bisa mendukung inovasi konten.
3. Omnichannel: Pengalaman Offline + Online yang Nyambung
Walaupun digital penting, Gramedia tetap mempertahankan lebih dari 100 gerai fisik. Bukan cuma buat jualan buku, tapi jadi tempat gathering, ruang eksplorasi, dan lifestyle hub.
Kenapa ini penting?
Banyak orang masih suka sensasi lihat buku langsung, baca sinopsis, dan cium aroma buku baru.
Dampak ke bisnis:
Konsumen bisa bergerak bebas antara online dan offline. Ditambah dengan aplikasi MyValue yang menyediakan reward digital, pengalaman pelanggan makin lengkap.

4. Pemasaran Digital Berbasis Rekomendasi
Keputusan beli buku sekarang banyak dipengaruhi review, ulasan, atau konten media sosial.
Kenapa relevan?
Karena 78% orang Indonesia beli buku gara-gara ulasan online.
Dampaknya:
Gramedia bisa memanfaatkan influencer buku, konten review, dan campaign kreatif untuk mendorong penjualan.
Contohnya:
Event “Back to School” atau “Gampar” yang biasanya bikin traffic ramai.
Kesimpulan
Perjalanan Gramedia menghadapi gelombang digital membuktikan bahwa adaptasi adalah kunci. Mereka nggak nunggu sampai terlambat. Mulai dari mengembangkan layanan e-book terbesar, membangun omnichannel yang solid, sampai mengubah portofolio bisnis mereka, semuanya dilakukan untuk tetap relevan di era digital.
Transformasi ini bukan cuma menyelamatkan bisnis Gramedia, tapi juga membantu dunia literasi Indonesia jadi lebih modern, interaktif, dan mudah dijangkau. Di saat banyak toko buku lain tumbang, Gramedia justru naik level dan membuka jalan baru untuk masa depan literasi di Indonesia.
FAQ – Transformasi Digital dan Gramedia
Mengapa transformasi digital penting?
Karena di zaman sekarang, konsumen (terutama generasi muda) sangat tergantung pada teknologi. Transformasi digital membantu bisnis tetap relevan, meningkatkan efisiensi, dan memungkinkan memberikan nilai lebih kepada pelanggan lewat solusi baru.
Apa saja tahapan transformasi digital?
Sebagai langkah awal memahami strategi pemasaran di era modern, penting untuk mengetahui tiga tahap utama dalam proses menuju bisnis digital. Dimulai dari digitisasi, yaitu mengubah data fisik menjadi bentuk digital agar lebih mudah dikelola. Lalu berlanjut ke digitalisasi, ketika teknologi digital mulai diintegrasikan ke dalam proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi. Tahap akhirnya adalah transformasi digital, yang mendorong perubahan pada model bisnis dan budaya organisasi agar mampu beradaptasi dengan ekosistem digital yang terus berkembang. Penjelasan lengkap mengenai strategi pemasaran dan tahapan digital ini bisa kamu pelajari lebih lanjut melalui artikel “Contoh Strategi Pemasaran – Senjata Rahasia UMKM Indonesia Mengguncang Pasar dan Bersaing di Era Digital” yang telah disediakan sebagai panduan awal.
Apa pentingnya literasi digital dalam menghadapi era digital yang makin maju ini?
Literasi digital penting agar kita bisa menggunakan teknologi secara cerdas menilai mana informasi yang benar, melindungi diri dari bahaya digital, serta memanfaatkan platform digital untuk belajar dan bekerja.
Mengapa bisnis beralih dari pemasaran tradisional ke pemasaran digital?
Karena pemasaran digital menawarkan banyak keuntungan: target audiens lebih akurat, biaya bisa lebih efisien, jangkauan lebih luas, dan hasil bisa diukur secara real time. Selain itu, dengan strategi digital, bisnis bisa menyesuaikan pesan mereka sesuai dengan perilaku konsumen yang sekarang banyak berada di media sosial dan platform online.
Untuk apa aplikasi Gramedia Digital digunakan?
Gramedia Digital dipakai untuk membeli dan membaca buku elektronik (e-book) dengan ribuan judul yang bisa diakses kapan saja dari smartphone. Ini sangat memudahkan, terutama untuk orang yang suka baca secara mobile dan gak mau repot bawa buku fisik.
Referensi
- Banyak Gerai Toko Buku Tutup, Gramedia Tetap Berdiri Tegak, Apa Rahasianya?
- Survei GoodStats: Masih Gemarkah Publik Indonesia Baca Buku di Era Digital?
- Masa Depan Buku Elektronik di Indonesia
- Intip Model Bisnis Toko Buku Kekinian Berkelit dari Efek Disrupsi Digital
- Penjualan Buku Secara Global Turun, Literasi Mundur?
- Masa Depan Toko Buku, Penerbit, dan Penulis
- Strategi transformasi digital gramedia dalam industri majalah
- Nestapa Penulis di Tengah Lesunya Industri Buku: Antara Rendahnya Minat Baca, Gempuran Teknologi, dan Harapan untuk Bangkit
- Contoh Strategi Pemasaran – Senjata Rahasia UMKM Indonesia Mengguncang Pasar dan Bersaing di Era Digital
- Minat Baca Menurun, Kenapa? Tantangan Literasi Zaman Sekarang | Mutia Indah NS | Suara Positif Ep.5